Selasa, 21 Februari 2012 - 19:39:29 WIB
Kehati: Produksi Padi Turun 1,2 juta Ton Per Tahun
Diposting oleh : Redaksi
Jakarta, (Wartajakarta.com)
Pertanian saat ini masih menjadi pilar pemenuhan pangan masyarakat Indonesia. Namun tantangan pemenuhan pangan ini sangat besar. Penyempitan lahan pertanian akibat konversi lahan, Perubahan iklim pun turut menyumbang terjadinya anomali cuaca ekstrim dan degradasi kualitas lahan akibat pengelola monokultur, penggunaan bahan kimia pertanian yang merusak ekosistem .

Degradasi kualitas lahan menurun akibat model pertanian tidak ramah lingkungan. Input intensif mulai dari benih, pupuk, pestisida, herbisida sehingga menyebabkan ketergantungan, sehingga terjadi pencemaran, kerusakan dan ketidak seimbangan ekosistem pertanian. Sehingga terjadi banjir ataupun kekeringan dan ancaman hama penyakit tanaman.

Kondisi ini diperkuat dengan Laporan Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) berjudul Mitigation of Climate Change memastikan bahwa aktivitas manusia merupakan penyebab perubahan iklim (IPPC, 2007). Berdasarkan data itu,tahun 1970 hingga 2004, di Indonesia telah terjadi kenaikan suhu rata-rata 0,2-1 derajat Celcius setiap tahunnya. Hal ini akan berdampak pada terjadinya kenaikan air laut, penurunan produksi pangan, kerusakan pesisir akibat banjir dan badai.

Diperkirakan, dengan kenaikan air laut 50 cm di Pulau Jawa akan mengurangi produksi padi 1,2 juta ton/tahun (total produksi 2006 adalah 54,6 juta ton
Akan tetapi, politik Pangan pemerintah berimbas pada pegalihan sumber pangan karbohidrat pada beras menyebabkan angka ketergantungan 100% pada beras sebagai makanan pokok, kecuali Maluku dan Papua yang tingkat ketergantungannya sudah 80% pada beras.

Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal menuju kemandirian pangan bersumber pangan lokal. Tak hanya itu, lahir pula Permentan Nomor 43/Permentan/OT.140/10/2009 tentang Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal (P2KP).

Akan tetapi, kebijakan tersebut belum menjadi gerakan bersama yang menjadikan pangan lokal sebagai makanan sehat dan bermartabat di negerinya sendiri. Pada 2010, pemerintah menggulirkan kampanye “One Day No Rice” yang mengajak public mengurangi konsumsi beras dengan pangan local seperti ubi, singkong, jagung, sukun, ganyong atau yang lain.

Cara ini diharapkan dapat menghemat 1,1 juta ton beras senilai Rp 6 Triliun. Berdasar data BPS terjadi penurunan konsumsi beras sebesar 113 kg/kapita /tahun /orang dari 139/kg/kapita/tahun/orang. Akan tetapi disisi lain, angka impor gandum meningkat ,” tambah Puji Sumedi, Program Officer Ekosistem Pertanian Yayasan Kehati.

Selain itu, Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati) akan memberikan apresiasi Kehati Award kepada individu, kelompok masyarakat atau organisasi. “Penghargaan ini diselenggarakan dua tahun sekali, sejak tahun 2000 dengan 6 kategori : Prakarsa Lestari Kehati, Pendorong Lestari Kehati, Peduli Lestari Kehati, Cipta Lestari Kehati, Citra Lestari Kehati, dan Tunas Lestari Kehati,” jelas MS Sembiring, Direktur Eksekutif Yayasan Kehati.

Untuk 2012 ini Kehati Award mengambil tema “Keanekaragaman Hayati, Perempuan dan Ketahanan Pangan” . Tidak dipungkiri, perempuan merupakan pemegang peranan penting dalam pemenuhan pangan keluarga, mulai dari produksi sampai pada konsumsi di meja makan. (Ulintha)


    CopyRight www.Wartajakarta.com 2007-2012