Kamis, 09 Februari 2012 - 08:07:50 WIB Film Malaikat Tanpa Sayap, Drama Percintaan Dengan Fenomena Sosial Diposting oleh : Redaksi
(Wartajakarta.com)-Setelah sukses menutup akhir tahun 2011 dengan kehadiran film Hafalan Shalat Delisa,Starvision di awal tahun 2012 ini kembali mengeluarkan film yang bertema unik dan beda dengan kebanyakan film nasional lainnya,Dengan menghadirkan film Malaikat Tanpa Sayap, sebuah drama percintaan remaja yang dibalut dengan fenomena sosial masyarakat yang pertamakali diangkat ke layar lebar.
Di film ini mengisahkan tentang cinta yang sulit karena terancam kematian,tentang kesulitan ekonomi yang memporakporandakan keutuhan keluarga,Film Malaikat Tampa Sayap ini di klaim sebagai film remaja dengan balutan kisah keluarga Indonesia sehingga apabila film Hafalan Shalat Delisa didedikasikan untuk ibunda,maka Maka Malaikat Tanpa Sayap untuk Ayahanda.
Chand Parwez Servia Produser Starvision mengatakan, ide awal dari cerita film ini bermula saat perjumpaan dengan Rako Prijanto,Memang saya suka dengan beberapa karya-karyanya. Diakuainya pada awalnya memang banyak film dari Starvision yang bergenre komedi, tapi saat perjumpaan berikutnya Rako menyodorkan Malaikat Tanpa Sayap dan saya langsung tertarik dengan cerita jatuh cinta dan saya menghubungi Titien Wattimena yang kebetulan mengajak Anggoro yang sudah saya kenal.
“Diharapkan film ini bisa menjadikan pembelajaran dan contoh positif bagi yang menontonnya
dalam membuat film kami selalu mengutamakan mengangkat sisi kehidupan masyarakat sekitar sehingga lebih mudah untuk disimak dan dimengerti,” ujarnya.
Selain film Malaikat Tampa Sayap kami sudah mempersiapkan dua kisah cinta romantis dan ini film saya yang ketiga untuk genre drama cinta dan memang ada rasa.pada awalnya saya merasa sangat kawatir terhadap para pemain tidak dapat memainkan peran yang saya inginkan,tapi setelah melihat hasilnya luar biasa dengan fokus akting dan menghindari prototipe dan harus menjadi sesuatu yang luar biasa,ujar Rako Prijanto Sutradara film Malaikat Tampa Sayap.
Dengan kehadiran sosok Artis yang pernah sukses sebagai penyanyi rock tanah air Ikang Fawzi yang pertama kali saya direct dan total saya berhasil merampungkan film yang punya cita rasa yang tinggi ,ujar Rako.
Sinopsis:
Kita punya pilihan buat jalanin hidup. Tapi kita nggak punya pilihan, buat mati…”
VINO (Adipati Dolken) tidak terlalu dekat dengan keluarga apalagi setelah papanya, AMIR (Surya Saputra) bangkrut akibat ditipu rekan bisnisnya hingga mereka pindah dari perumahan elite ke rumah kontrakan di gang. Mamanya, MIRNA (Kinaryosih) justru kabur dari rumah, bahkan tega meninggalkan, WINA (Geccha Qheagaveta), putrinya yang berusia 5 tahun
Suatu ketika Wina terjatuh di kamar mandi dan dari hasil rontgen Wina diharuskan menjalani operasi, kalau tidak kakinya infeksi dan harus diamputasi. Wina membutuhkan transfusi darah karena pendarahan, sementara golongan darah Wina cukup langka; A rhesus negatif. Vino yang mempunyai golongan darah yang sama, mengajukan diri. Saat itulah, CALO (Agus Kuncoro) yang sedang mencari pendonor jantung mendengar hal itu menawari Vino untuk menjadi pendonor jantung karena ada resipien (calon penerima jantung) yang golongan darahnya sama dengan Vino
Di rumah sakit itu pula Vino berkenalan dengan MURA (Maudy Ayunda). Sejak Sejak itu Vino merasa hidupnya berwarna. Vino yang awalnya sempat putus asa hingga bertransaksi dengan Calo, mulai goyah. Ia tidak mau mendonorkan jantungnya namun hal itu membuat CALO marah besar
Mengapa CALO sangat marah kepada Vino? Siapakah sebenarnya resipien yang CALO maksudkan?
Temukan jawabannya mulai 9 Februari 2012

|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| CopyRight www.Wartajakarta.com 2007-2012 |
|